Kolumnis

GSSB dan GMKR, Paket Bagi yang Ingin Beruntung

  Laporan : Suara Riau
   : info@suarariau.co
  2026-06-13 15:43:35 WIB
Edy Natar Nasution/ist

SuaraRiau.co -Mengawali tulisan ini saya ingin mengangkat sebuah kisah yang sangat populer dan sering disampaikan oleh para ustat dalam ceramahnya.

Ketika itu, nabi Ibrahim AS dibakar oleh raja Namrud, lalu tibalah seekor burung pipit, berulangkali mengambil air lalu meneteskan air itu di atas api yang sedang membakar tubuh nabi Ibrahim. AS.

Cicak yang melihat aksi burung pipit, tertawa sambil mengejek, "Wahai burung pipit, alangkah sia-sia dan bodohnya engkau, paruhmu yang kecil hanya mampu menghasilkan beberapa tetes air, mana mungkin dapat mematikan api itu?". 

Burung pipitpun menjawab, "Wahai cicak, memang tidak mungkin paruhku yang kecil ini dapat memadamkan api yang besar itu. Aku hanya tidak ingin Allah melihatku hanya berdiam diri saja di saat sesuatu yang Allah cintai dizalimi.

Aku tidak pernah berfikir apakah aku akan berhasil memadamkan api itu atau tidak, aku hanya ingin Allah tau dimana saat kezaliman terjadi, aku berpihak".

Cicak terus tertawa sambil menjulurkan lidahnya bahkan ikut meniup api yang sedang membakar nabi Ibrahim. AS, agar cepat membesar.

Secara logika, tiupan cecak juga tidak akan berdampak untuk membesarkan api yang sedang membakar nabi Ibrahim. AS, tapi Allah melihat, dimana saat itu cicak berpihak.

Kisah ini tentu sangat relevan jika kita kaitkan dengan situasi yang terjadi saat ini, ditengah maraknya kemungkaran, oligarki berusaha menguasai negara dengan segala potensi yang mereka miliki.

Kekuasaan oligarki, menguasai hampir seluruh sektor kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, hukum dan Sumber Daya Alam (SDA). Pemerintah yang sedang berupaya keras merubah keadaan agar bisa melepas diri dari para oligarki, mendapat perlawanan yang sangat keras.

Hampir seluruhnya mereka kuasai, dengan kemampuan finansial yang dimiliki, boleh dikata seakan kemampuan mereka tanpa batas. Pemerintah yang berupaya merubah keadaan, dilawan secara masif dengan menciptan situasi sengaja dibuat tidak menentu.

Melalui buzer-buzer yang sudah lama dibina, mereka menyebar berita hoax, akhirnya rakyat menjadi bingung, tidak tau lagi mana yang benar dan harus memihak kemana, bahkan semua kelemahan Pemerintah, mereka blowup, seakan-akan tidak adalagi sisi baiknya.

Di sinilah iman rakyat mulai diuji, padahal semua perbuatan dan keputusan yang kita ambil di dunia hari ini akan diminta tanggung jawabnya di akherat kelak oleh Allah SWT.

*Alquran, surat Ali Imran ayat 104

Yang artinya: "Hendaklah ada diantara kamu, segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Itulah orang-orang yang beruntung.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan orang-orang untuk mengajak kepada kebaikan, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar. 

*Relevansi GSSB dan GMKR dihadapkan kepada surat Ali Imran ayat 104.

*Gerakan Sholat Subuh Berjemaah (GSSB).

GSSB merupakan sebuah gerakan menyer dan mengajak umat islam untuk bersama-sama mendirikan sholat subuh berjemaah, sebuah ibadah yang memiliki keutamaan besar. 

*Mengajak kepada kebaikan tertinggi:

Sholat subuh berjemaah di mesjid adalah salah satu ibadah yang sangat ditekankan dan memiliki ganjaran pahala yang luar biasa besar serta membawa kebaikan untuk memulai aktifitas di setiap hari. 

Mengingatkan dan mengajak melakukannya adalah sebuah kebaikan, dan inilah yang disebut dengan amar makruf.

*Gerakan Mengembalikan Kedaulatan Rakyat (GMKR).

GMKR adalah sebuah gerakan konstitusional yang katagorinya lebih pada upaya mencegah kemungkaran. Dalam ajaran islam upaya mecegah kerusakan moral, kezaliman, dan penindasan yang dilakukan oleh oligarki, disebut dengan nahi mungkar (mencegah kemungkaran).

*Melawan kezaliman dan ketidakadilan:*l

GMKR secara spesifik mempersoalkan praktik buruk oligarki. Persoalan penggusuran ruang hidup masyarakat, korupsi, hingga perampasan hak-hak rakyat, dalam islam disebut kemungkaran, dan harus dicegah. 

*Koreksi terhadap kebijakan:

Tuntutan GMKR dalam upaya mengkritik penyalahgunaan kekuasaan dan menuntut koreksi total atas arah kebijakan pemerintah pusat dan daerah, bentuk nyata dari upaya meluruskan penyimpangan (mencegah kemungkaran), agar kedaulatan sepenuhnya kembali ke tangan rakyat.

*Kesimpulan:

GSSB dan GMKR adalah sebuah paket sempurna dari implementasi Alquran, surat Ali Imran ayat 104. 

GSSB sebuah gerakan mengajak kepada kebaikan, disebut amar makruf. Sementara, GMKR gerakan mengajak masyarakat mencegah kemungkaran.

Kedua-duanya merupakan gerakan moral konstitusional, bentuk tanggung jawab seorang hamba kepada Allah SWT.

Kedua gerakan ini paket sempurna dalam upaya menjalankan perintah Allah, yaitu dalam rangka *amar makruf nahi mungkar.*

Jadi, jika ada pihak yang hanya setuju dan mendukung GSSB saja, sementara menentang GMKR, sesungguhnya mereka telah menentang perintah Allah sebagaimana Alquran surat Ali Imran ayat 104.(***)

Penulis,

*Edy Natar Nasution,

*Koordinator GMKR di Riau.

Penulis : Suara Riau
Editor : Elpi Alkhairi
Kategori : Kolumnis