SuaraRiau.co - Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau (UNRI) bersama Communication program, Faculty of Leadership and Management, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk "Penguatan Adab Bermedia Berbasis Budaya Melayu untuk Pencegahan Perundungan Digital Remaja Indonesia–Malaysia".
Kegiatan ini berlangsung di Ruang Multimedia SMA Negeri 1 Pekanbaru, Selasa (29/9/2026), diikuti 50 siswa. Tujuannya membekali remaja dengan nilai adab dan kearifan budaya Melayu agar lebih bijak dan beretika di ruang digital sehingga perundungan siber (cyberbullying) dapat dicegah.
Kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat skema mandatory UNRI 2026 dengan format kolaborasi internasional. Dua narasumber dihadirkan, yaitu Dr. Muhammad Raqib dari USIM dan Dr. Ringgo Eldapi Yozani dari UNRI. Keduanya mengajak peserta memahami bahwa etika bermedia sosial berakar pada nilai-nilai budaya yang telah lama hidup di rumpun Melayu, yang dimiliki bersama Indonesia dan Malaysia.
Kepala SMA Negeri 1 Pekanbaru, Dra. Baini, M.Pd, menyambut baik kegiatan ini. "Kami menyambut baik dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada SMA Negeri 1 Pekanbaru. Anak-anak kita tumbuh bersama gawai dan media sosial, sehingga mereka perlu dibekali bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga adab dan karakter. Nilai-nilai budaya Melayu sangat dekat dengan kehidupan kita dan sejalan dengan pendidikan karakter di sekolah," ujar Dra. Baini, M.Pd.
Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNRI, Dr. Rumyeni, menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah dan mitra dari Malaysia. "Kami mengucapkan terima kasih kepada SMA Negeri 1 Pekanbaru atas partisipasi dalam kegiatan pengabdian mandatory ini, dan kepada USIM atas sinergi yang terjalin. Kolaborasi lintas negara ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat hadir langsung di tengah masyarakat, khususnya dalam melindungi remaja dari dampak negatif media digital," kata Dr. Rumyeni.
Dalam pemaparannya, Dr. Ringgo Eldapi Yozani menekankan pentingnya menjadikan nilai budaya sebagai pedoman berperilaku di dunia maya. "Dalam budaya Melayu, menjaga tutur kata dan menghormati orang lain adalah bagian dari jati diri. Prinsip itu seharusnya juga berlaku ketika kita mengetik komentar atau membagikan unggahan," tutur Dr. Ringgo Eldapi Yozani, dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNRI.
Dr. Muhammad Raqib dari USIM turut menyampaikan bahwa tantangan perundungan digital dihadapi remaja di kedua negara. "Remaja Indonesia dan Malaysia menghadapi tantangan yang serupa di ruang digital. Karena itu, pendekatan berbasis budaya yang kita miliki bersama dapat menjadi benteng yang efektif untuk menumbuhkan empati dan tanggung jawab dalam bermedia," ujar Dr. Muhammad Raqib, USIM.
Selama kegiatan, para siswa mengikuti pemaparan materi dan sesi diskusi mengenai bentuk-bentuk perundungan digital serta praktik bermedia yang santun dan bertanggung jawab. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada kedua narasumber, mulai dari cara menyikapi komentar bernada menghina di media sosial hingga langkah yang dapat dilakukan ketika melihat teman menjadi korban perundungan digital. Para narasumber menjawab satu per satu dengan contoh-contoh yang dekat dengan keseharian remaja.
Ke depan, kolaborasi UNRI dan USIM diharapkan berlanjut melalui kegiatan serupa di sekolah lain dan di kedua negara. Dan kegiatan ini menjadi awal dari kerja sama di bidang akademik lainnya.(rls/src)