SuaraRiau.co -PEKANBARU- Tidak hanya minyak dan gas bumi (migas), Provinsi Riau sebenarnya sumber energi yang potensial. Namun sejauh ini potensi itu terkesan masih terabaikan
Demikian diungkapkan Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Minyak, Gas, Energi Baru dan Terbarukan Nusantara (Permigastara) Peri Akri, SE, MM. Hal itu dilontarkannya saat membuka seminar nasional bertajuk melalui “Sinema, Outlook Politik Ekonomi Migas Riau 2026–2030”, Sabtu (7/2/2026) di Ruang Pertemuan Gedung DPRD Provinsi Riau. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Permigastara dan dengan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).
Menurut Peri, dalam kondisi seperti saat ini, pemerintah sudah sebaiknya berpikir untuk menggali potensi migas baru selain energi migas. Apalagi cadangan migas yang masih ada, terus terkikis
Di Riau sendiri, diperkirakan ada sekitar.600 sumur minyak tua yang kondisinya dinilai tidak maksimal lagi. Sementara itu, untuk memaksimalkan produksi migas, butuh anggaran yang tidak sedikit karena membutuhkan teknologi yang canggih pula.
“Padahal, Riau memiliki potensi lain, namun terkesan masih terabaikan,” ujarnya lagi.
Energi tersebut adalah kelapa sawit, yang hasilnya bisa diolah menjadi sumber energi. Salah satunya adalah bio diesel yang kini mulai banyak dikonsumsi masyarakat.
Namun sebenarnya, masih banyak turunan lain dari hasil sawit yang bisa diolah, termasuk avtur.
Peri menilai, potensi ini belum dilirik pemerintah. Padahal, Riau memiliki hamparan perkebunan sawit yang begitu luas.
“Dengan cadangan migas sebanyak 2,5 miliar barel, diperkirakan paling lama bertahan selama 30 tahun. Setelah itu, apa yang harus dilakukan?” ujarnya.
Pihaknya menilai, sudah sebaiknya pemerintah mulai serius memikirkan energi lain yakni energi baru dan terbarukan seperti sawit ujarnya lagi.
Dikatakan, pihaknya akan mencatat apa saja isu dan pembahasan yang mencuat dalam seminar tersebut.
“Kita akan susun datanya, selanjutnya kita akan serahkan sebagai bahan masukan untuk Presiden Prabowo,” pungkasnya.
Sementara itu, Sekretaris SKK Migas Hulu Migas, Luky A Yusgiantoro mengakui hingga saat ini migas masih menjadi andalan energi nasional.
“Hingga saat ini energi migas memasok 45 persen kebutuhan nasional,” ujarnya.
Ditambahkannya, sejauh ini sektor hulu migas masih memiliki dampak besar terhadap pergerakan perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan operasional.
Nilai tambah lainnya, sektor hulu migas juga menyerap tenaga kerja lokal 19 ribu pekerja ditambah pekerja dari perusahaan pendukung.
Sedangkan Sugiarto selaku Koordinator Perencanaan Pembangunan Infrastruktur Minyak Gas Bumi Ditjen Migas Kementerian ESDM mengatakan, pemerintah masih tetap mengejar target yang telah dicanangkan, yakni swasembada energi pada tahun 2030.
Ia tak menampik, saat ini masih ada sejumlah isu yang masih kerap mencuat terkait ketahanan energi nasional.
Di antaranya, terkait ketersediaan, kemampuan mengakses infrastruktur energi, keterjangkauan biaya, Penerimaan masyarakat
Begitu pula dengan penurunan produksi minyak dan kapasitas kilang yang tidak mencukupi, tingginya disparitas harga BBM LPG dan listrik dari harga keekonomian, yang akhirnya berdampak pada peningkatan subsidi dan potensi gangguan layanan dan pasokan energi. Isu lainnya berkaitan dengan impor yang masih tinggi, serta pemanfaatan energi baru terbarukan masih rendah.
Sementara dalam diskusi, sejumlah isu sempat mencuat. Di antaranya terkait dengan pemanfaatan dana Participating Interest (PI) dari Blok Minyak Rokan yang dikelola PT PHR, serta kesiapan sumber daya manusia lokal, baik terkait pengelolaan migas di lapangan serta kemampuan menganalisa sektor ini dari sisi ekonomi maupun aturan hukum yang berlaku di Tanah Air. ***