Nasional

Titik Hot Spot Nasional Turun, Pemerintah Tetap Jaga Kewaspadaan

  Laporan : Suara Riau
   : info@suarariau.co
  2026-10-15 10:36:01 WIB
Ilustrasi. Foto: int

SuaraRiau.co -JAKARTA-Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, hot spot atau titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) saat ini sudah menurun secara signifikan. 

Berdasarkan hasil pantauan satelit, titik panas tercatat sebanyak 789 titik. Angka itu jauh menurun dari beberapa hari sebelumnya yang terpantau  mencapai 1.176 hot spot. 

"Hal tersebut berdasarkan data dari satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20," ujar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, di hadapan awak media di Jakarta. 

Ditambahkannya, pada enam provinsi prioritas pengendalian Karhutla, perkembangan hotspot high confidence menunjukkan perkembangan yang berbeda. 

Seperti di Sumatera Selatan saat ini terpantau sebanyak 130 titik, atau turun dari 224 titik. Angka ini masih yang tertinggi dibandingkan daerah lain. 

Selanjutnya Kalimantan Tengah dari 225 menjadi 86 titik. Sedangkan di Kalimantan Selatan, angkanya meningkat dari 31 menjadi 37 titik. 

Di Kalimantan Barat ada penurunan dari 47 menjadi 12 titik. Begitu pula Jambi yang terpantau sebanyak 3 titik, atau  turun dari sebelumnya yang terpantau sebanyak 16 titik. Sedangkan untuk Provinsi Riau, tetap nihil. 

Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 268 hotspot high confidence, turun dari 543 titik sehari sebelumnya. 

Menurut Menhut, pihaknya akan terus berupaya menjaga perkembangan tersebut. 

"Kewaspadaan tidak dapat dikurangi karena dinamika karhutla dapat berubah dengan cepat dan kondisi antarwilayah tidak selalu sama," tegasnya.  

Raja Juli mengingatkan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Sehingga apa yang terdeteksi, tidak musti harus sama dengan kondisi di lapangan. 

"Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan tindakan penanganan yang diperlukan," tuturnya.

Ditambahkannya, operasi Darat dan Udara tetap diperkuat bersama stakeholder lain seperti Manggala Agni Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha dan para pihak terkait. 

 "Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing," ucapnya.

Selain itu,  perhatian khusus tetap diberikan pada kawasan gambut. Hal itu mengingat bara api masih dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah, meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat. Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan harus terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman. 

Pada kesempatan berbeda, Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan, Wahju Rudianto, mengatakan, pihaknya terus menambah penguatan kapasitas  tenaga penyuluh di lapangan. Hal itu mengingat peran strategis penyuluh sebagai garda terdepan di tingkat tapak. 

Penyuluh kehutanan juga merupakan unsur penting yang berinteraksi langsung dengan masyarakat di tingkat tapak.

"Oleh karena itu, penguatan kapasitas penyuluh menjadi kunci dalam mendorong pencegahan karhutla melalui peningkatan kesadaran, kesiapsiagaan, dan partisipasi aktif masyarakat,” tutur Wahju. 

Karhutla tidak hanya berdampak pada kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati, namun juga berpengaruh terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta aktivitas sosial dan ekonomi. 

"Upaya pencegahan dan deteksi dini perlu diperkuat dengan melibatkan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan," tutupnya. *** rls 

Penulis : Suara Riau
Editor : siswandi
Kategori : Nasional
Jumlah Pembaca : 1