Webinar Permigastara Soal Blok Rokan, Bangkitkan Kejayaan Migas Riau, Perlu Ada Sinergi PHR dengan Pengusaha Lokal

  Oleh : Suarariau.co
   : info@suarariau.co
  2021-11-25 19:36:03 WIB
(Foto: Ist) (Foto: Ist)

SuaraRiau.co - Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perkumpulan Pengusaha Migas Energi Baru dan Terbarukan Nusantara (Permigastara) menggelar kegiatan Virtual Webinar Conference dengan tema "Blok Rokan, peluang dan tantangan pasca transisi untuk penguatan dunia usaha dan ekonomi daerah", Kamis 25 November 2021.

"Kegiatan yang kita gelar hari ini adalah sebagai wujud nyata dari Dewan Pimpinan Nasional Permigastara terhadap wilayah kita ini yaitu Provinsi Riau. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa hari ini Blok Rokan menjadi "sesuatu"," ujar Ketua Dewan Pengurus Nasional Permigastara Peri Akri.

Ia mengatakan kehadiran Permigastara terinisiasi oleh proses Transisi Blok Rokan yang lalu dengan berkolaborasi bersama kawan-kawan di level nasional. Bahwa selama ini blok rokan itu pernah mencapai kejayaannya yaitu mencapai 1 juta barrel one day dan pernah menjadi penopang cadangan devisa negara yang cukup kuat mencapai 60 persen waktu itu. 

"Dan sekarang, sudah sekian Miliar Barel minyak di Riau sudah tersedot. Tapi Riau tetap begitu-begitu saja. Jadi Riau terkesan belum mendapatkan yang seharusnya dari kekayaan sumber daya alamnya itu. Permigastara kan terlahirkan dalam situasi itu," ujar Peri.

Dikatakan Peri, proses transisi itu menimbulkan sebuah harapan baru ketika asing selesai dan blok rokan kembali ke ibu pertiwi dan dimanage oleh BUMN dalam hal ini adalah Pertamina Hulu Rokan (PHR), ada sebuah harapan disana.

"Permigastara tidak dalam posisi ingin ekstrem dalam melihat situasi itu. Maka tadi dalam webinar seperti kata Direktur PHR, mereka baru 100 hari ceremony. Ya kita memahami itu dan tentu itu belum bisa dijadikan sebuah penilaian sukses atau tidaknya PHR yang dipercaya negara dalam mengelola blok inikan," sebut Peri.

Dalam proses transisi ini, lanjut Peri, seperti dijelaskan juga oleh pengusaha Riau Peng Suyoto, ada mirroring. Artinya ada dua situasi budaya yang berpotensi terjadi gesekan. Yaitu budaya perusahaan asing, Chevron dalam hal ini dan budaya organisasi perusahaan lokal yaitu PHR. Walaupun memang Pertamina sendiri sudah menjadi perusahaan multi internasional. Tapi tetap saja akan ada gesekan dari sisi kebijakan.

Di tingkat Nasional, lanjut peri, pihaknya melihat Riau ini perlulah dikawal. Karena momentumnya ada. ketika produksi minyak rokan ini turun drastis, sekarang hanya sekitar 150-160 ribu barrel one day. Harapannya beberapa tahun kedepan energi fosil ini bisa dimaksimalkan di angka 300 ribu barrel one day. Dan sekian tahun lagi diharapkan bisa mencapai 1 juta barrel one day dan ini memang perlu kerja keras.

"Ini peluang bagi orang Riau. Dan secara nasional kami melihat Riau ini luar biasa dan perlu ada sinergi yang baik antara PHR dengan pengusaha lokal di wilayah setempat. Tetapi memang tentu akan ada gesekan. Bahkan pernah kemarin kan ada asosiasi yang mengancam mogok kan. Namun kita tidak ingin seperti itu, kita akan berikan ruang kepada PHR untuk bekerja secara maksimal terlebih dahulu," jelasnya.

Sejalan dengan itu, Permigastara melihat bahwa Riau ini perlu diberikan suatu penghargaan. Riau sudah banyak memberikan minyak kualitas terbaik di dunia tepatnya itu di wilayah Duri. 

"Kami melihat Duri sangat cocok dijadikan sebagai Training Center Migas, sebagai tempat SDM Migas. Agar ada sebuah penghargaan Kota Duri atas kejayaan masa lalu," ucapnya.

"Secara ekonomi, jika Training Center Migas itu ada di Duri, ini akan memotong Cost. Jadi kalau biaya sertifikasi itu sampai Rp10 juta, dengan tidak perlu lagi ke Cepu untuk sertifikasi, itukan bisa dipotong Cost nya," imbuhnya.

Namun memang bukan Cepunya yang akan dipindahkan ke Riau, tapi hanya sebagian agar lebih efektif sekaligus sebagai penghargaan untuk Duri. "Dan ini bisa mereduksi gesekan bawah. Makanya kita di Permigastara melihat itu," pungkasnya.***

Penulis : Suarariau.co
Editor : SR9
Kategori : Info Hulu Migas