Buka Dialog FPK Riau, Wagub: Diharapkan Bisa Mendorong Langkah Merawat Pembauran Kebangsaan di Tengah Kebhinekaan

  Oleh : Suarariau.co
   : info@suarariau.co
  2021-10-16 20:35:55 WIB
Wagub H Edy Natar berfoto bersama usai membuka dialog FPK/ist Wagub H Edy Natar berfoto bersama usai membuka dialog FPK/ist

SuaraRiau.co - PEKANBARU - Wakil Gubernur Riau (Wagubri), Edy Natar Nasution berharap dialog yang ditaja Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Riau dapat menghasilkan harapan positif sehingga melahirkan energi, sekaligus bisa terus mendorong langkah untuk merawat pembauran kebangsaan di tengah kebhinekaan.

Harapan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Riau (Wagubri), Edy Natar Nasution saat membuka dialog nilai-nilai pembauran masyarakat yang digelar FPK Riau. Dialog kali ini memilih tema Akar Rumput di Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Hadir pada kesempatan itu, Ketua FPK Riau, Ir. AZ. Fachri Yasin, M.Agr. serta tiga narasumber yakni, Prof DR Firdaus LN, dari Kalangan Ilmuan, Prof Dr Yusmar Yusuf dari Budayawan dan Ketua FKUB Riau, KH Abdurrahman Qoharuddin yang dimoderatori Fakhrunnas MA Jabbar.

Pada kesempatan itu Wagubri juga mengatakan atas nama Pemerintah provinsi (Pemprov) Riau mengucapkan selamat atas terselenggaranya forum dialog ini.

"Apresiasi kami juga sampai kepada pengurus FPK Riau yang terus menggelar berbagai kegiatan pembauran kebangsaan," ucap Edy Natar Nasution,  di  Hotel Furaya Pekanbaru, Sabtu (16/10/2021).

Menurutnya, dialog pembauran ini menghadirkan berbagai paguyuban. Hal ini merupakan bentuk terlaksananya pembauran yang sesungguhnya. Meski berbeda etnis, suku, ras dan agama namun tetap bersatu dalam NKRI.

Bangsa Indonesia dikenal sejak dulu sebagai bangsa yang beraneka ragam baik, suku, etnis, bahasa, ras, dan agama. 

Kemajemukan Bangsa Indonesia dapat dilihat dari gambaran demografi. Bahwa terdapat 726 suku bangsa dan 116 bahasa daerah dan enam agama yang tersebar di berbagai wilayah nusantara."Yang bertekad untuk menjadi satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa Indonesia," ujar Edy Natar.

Sehingga, kebhinekaan tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Di masa lalu, masa kini, maupun masa yang akan datang.

Namun, Bangsa Indonesia masih menghadapi berbagai konflik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Hal ini disebabkan oleh berbagai latar belakang, permasalahan baik ras, suku, budaya, dan agama yang dapat mengancam integritas nasional.

Oleh karena itu, kata Edy Natar, dalam rangka menjaga, memelihara keutuhan persatuan, dan kesatuan bangsa agar tetap tegaknya kedaulatan NKRI diperlukan adanya komitmen seluruh bangsa. Juga upaya upaya meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

"Salah satu upaya itu adalah dialog-dialog dan pertemuan-pertemuan yang diadakan seperti yang kita lakukan pada hari ini. Semoga dialog ini mendorong komitmen kita dalam merawat pembauran kebangsaan di tengah kebhinekaan," harapnya.

Ditambahkan Wagub, pentingnya pembauran kebangsaan ini juga tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 34 Tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan pembauran kebangsaan baik di daerah. 

Dalam aturan itu disebutkan, bahwa penyelenggaraan pembauran kebangsaan adalah proses pelaksanaan kegiatan integrasi anggota masyarakat dari berbagai ras, suku, etnis.

"Melalui interaksi sosial dalam bidang bahasa, adat istiadat, seni budaya, pendidikan, dan perekonomian adalah untuk mewujudkan kebangsaan Indonesia. Tanpa harus menghilangkan identitas ras suku dan etnis masing-masing dalam kerangka negara kesatuan," papar Wagubri. 

Selain itu, pembinaan pembauran kebangsaan juga merupakan upaya yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat. Hal ini untuk terciptanya iklim yang kondusif yang memungkinkan adanya perubahan sikap. Supaya bisa menerima kemajemukan masyarakat dalam wadah NKRI.

"Sehingga pentingnya sosialisasi pembauran kebangsaan ini sebagai upaya untuk mensosialisasikan program pembauran kebangsaan, agar dapat dipahami dan dihayati oleh masyarakat secara luas," ucapnya.

Melalui dialog pembauran kebangsaan tersebut, Wagubri mengajak masyarakat untuk komitmen menjaga pembauran kebangsaan ini. Hal ini merupakan salah satu cara dalam menyelesaikan sejak dini potensi-potensi atau konflik terkait dengan keagamaan, suku.

"Untuk itu, Pemprov Riau sangat mendukung penyelenggaraan dialog pembauran kebangsaan ini. Diharapkan melalui dialog ini terbangun hubungan yang saling menghormati, saling menghargai. Lalu, pada muaranya meminimalisir potensi konflik antar suku antar, etnis di tengah-tengah masyarakat," pungkasnya.(***)

Editor: SR9