Media: (Bukan) Pengerat, Tetapi Perawat Bahasa

  Oleh : Elpi Alkhairi
   : info@suarariau.co
  30 May 2020 | 16:51 WIB
Ilustrasi/int Ilustrasi/int

SuaraRiau.co -  Ragam bahasa jurnalistik, hukum, dan sastra tidak memiliki kaedah sendiri-sendiri. Semua itu bagian dari bahasa Indonesia dengan kaedah standar/baku. Untuk itu, penulisan dalam media massa harus tunduk dan patuh pada aturan baku bahasa Indonesia.

Keterbatasan ruang oleh pelaku media adalah “dalih” yang tidak bisa berterima, namun harus dicarikan solusi untuk mewujudkan fungsi pers sebagai alat untuk mencerdaskan masyarakat. Sebab, tidak ada yang lebih penting dari pada mengedepankan pengutamaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Perbincangan menarik Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau, Zulmansyah Sekedang, Kepala Balai Bahasa Riau, Songo Siruah, dan beberapa orang pengurus PWI Riau di kantor PWI Riau, 14 Mei 2020, menyentakkan pelaku media yang hadir kala itu. Pertemuan dua instansi yang dikemas dalam diskusi santai, namun “berisi” dianggap sebagai bentuk penegasan kembali pada urgensi bahwa bahasa Indonesia adalah induk dari ragam bahasa yang ada di Indonesia.

Diakui atau tidak, pelaku media menjadikan pers sebagai industri yang tidak bisa lepas dari kepentingan bisnis yang bernilai ekonomis. Sedangkan Balai Bahasa regulator (baca: pemerintah) yang mengatur tatanan dalam pengunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dua lembaga berbeda menjalankan fungsi dan tangung jawab yang sama, yaitu sama-sama menjaga dan mengelola kata-kata menjadi bahasa, yaitu bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia yang dimaksud adalah bahasa Indonesia yang lahir dari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Jakarta. Di sanalah keputusan dibuat untuk menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia".

Sampai hari ini, momentum Sumpah Pemuda menjadi perjalan panjang Indonesia hingga memiliki identitas, salah satunya bahasa Indonesia.  Maka, tidaklah berlebihan jika ikrar Sumpah Pemuda dipatrikan di dada pelaku media dalam setiap amanah yang mereka emban. Sehingga, alasan menempatkan “harga” dalam industri pers akan menjadi nomor dua setelah alasan mengedapankan penempatan bahasa Indonesia.

Memang, industri pers tidak hanya menjalankan fungsi penyampai informasi dan alat kontrol dalam kehidupan bernegara, akan tetapi di dalamnya ada bisnis yang bernilai ekonomis. Pelaku pers dituntut menghitung (harga/nilai) dari setiap ruang dalam media cetak dan waktu/durasi dari setiap tayangan media elektronik.

Sedangkan, di satu sisi mereka harus berhadapan dengan tuntutan kepenulisan bahasa yang baik dan benar yang sebenarnya sudah diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang ”Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan”.

Aturan ini dijabarkan lagi dengan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2019 tentang Pengutamaan Bahasa Indonesia. Bahkan, kita punya Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), sebelumnya Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk bisa dipedomani.

Tidak Sama dalam Berbahasa

Pelaku media (terutama wartawan dan redaktur) dalam memproduksi berita menyadari kalau mereka juga menjalankan fungsi pers sebagai media pendidikan. Wartawan atau penulis berkepentingan untuk membina dan mengembangkan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada masyarakat.Mereka (baca: pihak media) berkewajiban memasyarakatkan bahasa Indonesia.

Bahasa di media harus menjadi teladan dan pelopor dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Akan tetapi, dalam praktiknya, ada saja yang mengingkari. Tidak semua media punya acuan yang sama dalam pembakuan kosa kata dan istilah. Mereka punya cara berbeda-beda dan sikap yang tidak sama dalam berbahasa.

Ketidakseragaman inilah yang dikhawatirkan dapat merusak bahasa Indonesia. Contohnya, ada media yang memakai kata “solat”, “shalat”, “sholat”. Seharunya ditulis “salat”. Begitu juga dengan penulisan “ustaz”. Ada yang menulis dengan kata yang tidak baku yaitu, “istaz”, “ustad”, dan “ustadz”. Untuk kata “gender” ada menuliskan dengan “jender”. Hal yang sama juga terjadi pada kata “objek” ditulis “obyek”.

Menyikapi persoalan ini, Badan Bahasa terus berupaya melakukan pemutakhiran KBBI, PEUBI, memperbaharui buku Pedoman Pembentukan Istilah, dan buku lainnya.Khusus KBBI, Badan Bahasa melakukan pemutakhiran dua kali setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober. Pemutakhiran KBBI terakhir, dilakukan pada bulan April 2020.

Pada pemutakhiran April 2020, terdapat penambahan entri baru yang sebagian besar berasal dari kata-kata bahasa daerah (seperti bahasa Sunda, Aceh, Gayo, dan Jawa) serta istilah bidang ilmu (seperti istilah warna dan militer). Pemutakhiran meliputi juga soal perbaikan definisi atau makna serta contoh yang dianggap sudah tidak relevan atau kurang tepat.

Hal yang sama juga dilakukan Badan Bahasa dalam penyerapan terhadap bahasa asing dan istilah kekinian. Kata-kata yang masuk dalam pemutakhiran KBBI biasanya yang kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik kosa kata lama maupun yang mengalami pergeseran makna. Pembaharuan atau pemutakhiran terakhir dilakukan pada Oktober 2019. Ada lebih dari seribu entri baru masuk dalam KBBI edisi terbaru.

Dari sekian banyak diksi baru yang masuk dalam KBBI terbaru, beberapa di antaranya 'pansos', 'julid', 'pulkam', 'cie', 'gaptek', 'Mayday', dan sebagainya. Ambil contoh istilah “Mager”. “Mager” merupakan kependekan dari malas bergerak, diartikan sebagai enggan atau tidak sedang bersemangat melakukan aktivitas.

Pekerjaan dalam pemutakhiran KBBI, PEUBI, dll., agaknya menjadi pekerjaan berat dan tidak akan ada hentinya. Perlu tangung jawab bersama demi jayanya bahasa Indonesia. Sehingga, jangan ada lagi yang berasumsi bahwa media sebagai “pengerat” bahasa yang membiaskan makna kata karena keterbatasan ruang, akan tetapi media adalah perawat bahasa Indonesia.

Meminjam kata bijak Thomas Jefferson, Presiden ke-3, Amerika Serikat bahwa pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan dan meningkatkan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral, dan sosial. Semoga.(Penulis adalah Pengurus PWI Riau periode 2017-2022 dan Pemimpin Redaksi Suarariau.co)

 

 

 

 

 

 

Editor: SR5
TERBARU

Dapatkan informasi terbaru dari kami !
ikuti kami di :
Galeri Foto
Hubungi Kami
Alamat : Jl. Hang Nadim No.18, Sail, Pekanbaru 28282
0819 9123 7419
redaksi@suarariau.co
info@suarariau.co
2019 © info@suarariau.co All rights reserved
Redaksi | Pedoman Media Siber | Salam Redaksi