Belajar Memahami Karhutla (1)

  Oleh : Suarariau.co
   : info@suarariau.co
  21 May 2020 | 20:48 WIB
Dr.Afni Zulkifli, M.Si Dr.Afni Zulkifli, M.Si

SuaraRiau.co - Mengapa melakukan rekayasa hujan di musim hujan?

1. Sekarang lagi musim Corona. Sebentar lagi sesuai prediksi BMKG, akan masuk musim kemarau. Puncaknya Juni-Agustus. Seiring itu biasanya akan muncul musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Disusul musim asap. Jika Corona yang sudah jadi bencana nasional dan Karhutla yang jadi bencana musiman bersua di waktu yang sama, maka lengkaplah derita rakyat sederita-deritanya. 

2. Agar ancaman penderitaan itu tidak terjadi, segala daya upaya harus segera dilakukan sejak dini. Tantangan lebih berat, karena fokus perhatian para anggota Satgas di tingkat tapak seperti BNPB, TNI, Polri, termasuk Pemda, saat ini terbagi energinya karena mengurus Corona. 

Maka leading sector Karhutla saat ini mengarah ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), meski sesuai amanat Inpres 3/2020 yang bertanggungjawab pada penanggulangan Karhutla itu sebenarnya ada pada 28 Kementerian/Lembaga termasuk para Gubernur dan Bupati/Walikota.

3. Landscape Provinsi Riau sudah banyak mengalami perubahan. Tuhan kasi gambut, manusia bongkar jadi kebun sawit, pemukiman dan ladang. Gambut yang rusak tak mungkin pulih seketika. Kita gak bahas itu lebih lanjut di sini, nanti ada sesi bagian tersendiri.

4. Gambut ditakdirkan selalu basah. Gambut yang kering akan sangat mudah terbakar. Jika sudah terbakar, sangat sulit sekali dipadamkan. Butuh biaya dan energi SDM yang sangat besar.

5. Banyak lahan HTI, HGU, bahkan lahan masyarakat berada Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yang harus dijaga. Pasca Karhutla dahsyat 2015, sekarang diwajibkan setiap konsesi yang berada di KHG memiliki Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT). Salah satunya berfungsi memastikan kebasahan gambut berada pada batas aman.

6. Ada lebih dari 10.690 TP-TMAT di 280 perusahaan yang memiliki tanggungjawab menjaga dan memulihkan ekosistem gambut. Laporannya selalu disampaikan ke KLHK. Ini belum termasuk 44 stasiun pemantauan TMAT yang dipasang Badan Restorasi Gambut (BRG). Status batas TP-TMAT ada tiga, yakni Aman, Siaga, dan Bahaya.

7. Nah...dari TP-TMAT inilah terlihat, meski masih dalam masa musim hujan, kondisi lahan gambut di Provinsi Riau telah menunjukkan pada level siaga bahkan bahaya. Kalau tidak segera dibasahi dan dijaga kelembapannya, maka potensi terjadi kebakaran saat musim kemarau nanti sangat tinggi. 

8. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) merekomendasikan KLHK untuk segera melakukan rekayasa hujan, mumpung masih banyak awan hujan. Kalau sudah masuk musim kemarau, potensi awan hujan sangat minim sekali. Rekayasa hujan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) diharapkan akan semakin menambah intensitas hujan. 

9. KLHK bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akhirnya sepakat bekerjasama melakukan rekayasa hujan. Sifatnya: Segera!

Dalam operasinya, rekayasa hujan ini dibantu pesawat Casa A-2107 milik TNI AU yang didatangkan khusus dari Malang-Jawa Timur. Biasanya modifikasi pakai Hercules, tapi pesawat TNI AU lainnya saat ini sedang fokus juga membantu penanganan Covid-19. Yang tersisa ya cuma pesawat Casa itu. Namun daya angkutnya sama, bisa mencapai 800 Kg garam.

10. Rekayasa hujan dilakukan KLHK selama 15 hari kerja. Dimulai dari Provinsi Riau, lalu kemudian nanti dilanjutkan ke Jambi dan Sumsel.

Ini dilakukan KLHK guna mengisi embung, kanal, dan membasahi gambut sampai pada level aman agar tidak kering saat nanti masuk musim kemarau.

Istilahnya: Sedia air sebanyak-banyaknya sebelum datang musim kering.

11. Rekayasa hujan yang dilakukan di musim hujan, misinya adalah PENCEGAHAN, bukan pemadaman. Tujuannya mencegah gambut kering kerontang saat nanti datang musim kering. 

Rekayasa hujan juga bisa dilakukan di musim kering saat karhutla, tapi jika itu terjadi maka misinya sudah berubah menjadi misi PEMADAMAN. 

Prinsip utamanya: Mencegah lebih baik daripada memadamkan. 

12. Rekayasa hujan ini bagian kecil dari ikhtiar, selain kerja tim lapangan di darat yang setiap hari selalu melakukan patroli dan ground check hotspot. 

Satelit bisa membaca hotspot dengan tingkat confident 0-100, tapi yang bisa jadi rujukan hanya hotspot pada tingkat 80-100. Karena satelit biasanya membaca titik panas dengan begitu 'lugunya', terkadang atap seng rumah orang pun disebut hotspot. Karena itulah tim Satgas harus melakukan groundcheck ke lokasi yang ditunjukkan satelit. Kerja ini tetap rutin dilakukan dengan protokol Covid.

13. Hingga tanggal 20 Mei di Provinsi Riau, telah dilakukan enam sorti penerbangan dengan total bahan semai NaCl sebanyak 4,8 ton.

14. Berdasarkan citra satelit TRMM, rekayasa hujan di Riau telah menghasilkan 17,1 juta m2 air yang turun pada daerah-daerah dengan potensi awan hujan terbesar. 

Rekayasa hujan juga mulai berhasil membasahi gambut dengan intensitas sedang hingga tinggi yang terjadi di sebagian besar wilayah Riau seperti di Kabupaten Siak, Bengkalis, Kepulauan Meranti, Pelalawan dan Indragiri Hilir.

Untuk bagian ini saya ada cerita lucu. Kakak saya di Siak sempat meluahkan rasa kesal beberapa hari lalu. Katanya karena hujan berkali-kali, kue agar-agar untuk hari raya yang dibuatnya tak jadi-jadi. Tak bisa menjemur kue karena tak ada panas matahari.

Saya sudah minta maaf. Memintanya bersabar dan memilih ''Mau batal buat kue raya atau mau bengek karna asap karhutla saat musim kemarau tiba?''. 

Si Kakak akhirnya bikin kue raya jenis yang lain...????

Oke lanjut...

15. Angka 17,1 juta m2 air adalah hasil rekayasa hujan, sehingga hujan alami di luar titik wilayah penyemaian tidak diklaim. Jumlah hujan alami dan bantuan hujan buatan ini Alhamdulillah cukup berhasil menaikkan Tinggi Muka Air Tanah atau TMAT dari semula mayoritas di level bahaya ke level aman. 

Artinya saat ini gambut di Riau terpantau mulai basah untuk menyambut musim kering. 

16. Selain misi membasahi gambut sebagai aspek pencegahan, adanya tambahan pasokan air di kanal dan embung hasil dari rekayasa hujan, diharapkan bisa memudahkan tim darat mendapatkan pasokan air untuk melakukan pemadaman bilamana terjadi kebakaran. Karena selama ini misi pemadaman di darat selalu terkendala pasokan air.

Saya sudah pernah ikut turun ke lokasi pemadaman, ikut pegang selang. 

Menginjak gambut membara tanpa tau baranya ada dimana. Dikelilingi api dan asap. Sesaknya luar biasa. 

Saat semprotan air gak kencang karna minim pasokan, barulah tersadar betapa   sungguh luar biasanya kerja tim Satgas yang berjibaku di garda terdepan pemadaman. Dedikasi mereka jauh dari pandangan mata kita semua.

Saat itu saya cuma sanggup tidur satu malam saja di tengah hutan bersama tim Manggala Agni, di titik zero pemadaman. 

Saat itu juga baru sadar, inilah arti penting rekayasa hujan guna membasahi gambut dengan TMC di musim hujan.

*Tantangan:*

Tidak semua KHG berada di wilayah konsesi, tapi juga ada di wilayah yang dikuasai masyarakat. 

Areal gambut di wilayah konsesi dapat dipantau melalui TP-TMAT. Sehingga bisa segera dilakukan intervensi kebijakan. 

Areal gambut yang dilakukan pembasahan tidak mengalami kebakaran pada kejadian tahun 2019.

Instrumen pemantauan dan pengawasan untuk wilayah konsesi sangat banyak sekali, tapi bagaimana dgn KHG yang berada di kawasan non konsesi? 

Tentu membutuhkan sinergisitas semua instrumen pemerintah, baik pusat maupun daerah, penegak hukum, swasta dan masyarakat. Butuh kesadaran kolektif dengan mengedepankan persepsi kerja pencegahan daripada pemadaman.

Sedia air sebelum datang musim kering.

*Sampai* di sini dulu ya sesi belajar sederhana ini, nanti pelan-pelan kita saling berbagi lagi.

Harapan saya janganlah sampai ada karhutla di musim Corona, kalau tidak mau muncul penyakit Pernafasan Sengal-sengal Berskala Besar (PSBB).

Semoga Allah Swt meridhoi setiap upaya yang dilakukan. Semoga tim yang bekerja di udara, di darat, di ceruk-ceruk kampung dan hutan, selalu diberi keselamatan dan kesehatan. Semoga yang masih suka bakar-bakar bertobat. Aamin.
____________________________

NEXT bagian kedua: Apakah garam untuk rekayasa hujan sama dengan garam emak-emak di dapur? Mengapa perlu ada kebijakan membuat hujan buatan?
_____________________________
* Penulis Tenaga Ahli Menteri LHK/Dosen FIA Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru/Korban dan Peneliti Karhutla

Editor: SR8
TERBARU

Dapatkan informasi terbaru dari kami !
ikuti kami di :
Galeri Foto
Hubungi Kami
Alamat : Jl. Hang Nadim No.18, Sail, Pekanbaru 28282
0819 9123 7419
redaksi@suarariau.co
info@suarariau.co
2019 © info@suarariau.co All rights reserved
Redaksi | Pedoman Media Siber | Salam Redaksi